Cara aman dalam usaha pengobatan thalasemia baik itu thalasemia mayor maupun minor secara tradisional dan alamiah adalah dengan mengkonsumsi ekstrak gamat/teripang yang merupakan alternatif pengobatan alami tanpa harus ketergantungan tranfusi darah.

Definisi Thalasemia

Thalassemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari keempat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin (komponen darah).

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu makan hilang, dan infeksi berulang.

Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya. Hemoglobin merupakan protein kaya zat besi yang berada di dalam sel darah merah dan berfungsi sangat penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkannya sebagai energi. Apabila produksi hemoglobin berkurang atau tidak ada, maka pasokan energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi tubuh tidak dapat terpenuhi, sehingga fungsi tubuh pun terganggu dan tidak mampu lagi menjalankan aktivitasnya secara normal.Thalasemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari keempat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin.

Thalasemia menurut para ahli belum ada obatnya, tapi pengobatan alami dengan menggunakan  spirulina dan jelly gamat akan membantu mengurangi frekwensi transfusi darahnya . Alasanya :

Kandungan Cyano Spirulina terdapat 5 zat gizi utama, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan 4 pigmen alami yaitu betakaroten, klorofil, xantofil, dan Fikosianin.Pigmen adalah zat warna alami yang ada pada tumbuhan.  pigmen  pada cyano Spirulina berfungsi sebagai detoksifikasi (pembersih racun), perlindungan tubuh terhadap radikal bebas, antioksidan, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan jumlah bakteri ”baik” di usus, meningkatkan haemoglobin (Hb), dan sebagai antikanker. Selain itu, cyano Spirulina  mengandung klorofil, Vitamin B 12, Asam folat dan zat besi yang duperlukan untuk pembentukan darah merah. Konsumsi  cyano Spirulina secara teratur akan mencegah terjadinya anemia ( kurang darah)

CYANO Spirulina mengandung klorofil, Vitamin B 12, Asam folat dan zat besi yang duperlukan untuk pembentukan darah merah. Konsumsi Cyano Spirulina secara teratur akan mencegah terjadinya anemia ( kurang darah)

Menurut Prof I Nyoman Kabinawa, periset Pusat Penelitian Pengembangan Bioteknologi, kemampuan spirulina meningkatkan trombosit lantaran kaya ferum atau zat besi. Kandungannya 15 mg/ 10 g, terbanyak dibandingkan berbagai sumber pangan lain. Zat besi berfungsi untuk kesehatan sel-sel darah merah dan menguatkan sistem kekebalan tubuh. Fungsi lain memacu sumsum tulang untuk memproduksi haemoglobin sebagai bagian dari sel darah merah. Uji klinis yang dilakukan Johnson dan Shubert, membuktikan zat besi spirulina diserap lebih dari 60%.

Bandingkan dengan suplemen lain seperti ferosulfida yang hanya 20%. Itu sebabnya spirulina efektif untuk penanggulangan anemia. Riset lain ditempuh oleh T. Takeuchi dari Tokyo Medical and Dental University, Jepang. Sebanyak 8 wanita muda pengidap anemia hipokronis dengan kandungan haemoglobin (HB) lebih rendah daripada normal, diberikan 4 g spirulina per hari selama 30 hari. Hasilnya kandungan HB naik 21% dari 10,9 menjadi 13,2.

Menurut Cheng-Wu Z dalam Second Asia Pacific Conference on Algal Biotechnology, penyembuhan itu juga karena polisakarida dan pigmen fikosianin. Keduanya terbukti beraktivitas erythropoetin, prekusor pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Khasiat spirulina meningkatkan sel darah merah juga dibuktikan oleh Z. Trojacanec dari Institute for Medical, Skopje, Macedonia. Trojacanec meriset para atlet dengan jam latihan tinggi. Akibat kelelahan ditemukan defi siensi zat besi yang berakibat anemia.tu dibuktikan setelah menghitung jumlah sel darah merah, haemoglobin, dan serum besi pada 20 atlet pria dan 20 atlet wanita berusia 18—22 tahun. Setelah diberi spirulina 3 kali sehari selama 2 bulan, serum darah dan haemoglobin meningkat.Bahkan kelelahan, kekakuan otot, dan kerap mengantuk, menghilang setelah jumlah serum zat besi meningkat. Kondisi itu pula yang mungkin dialami Nusanto. Meningkatnya trombosit hingga 6 kali lipat, membuat kebugaran tubuhnya juga meningkat. Nilai trombositnya memang belum menyentuh angka normal, tetapi setidaknya membendung aliran darah yang tak kunjung usai. (Vina Fitriani) sumber: trubus online

Lalu soal ekstrak teripang(jelly gamat) mengatasi talasemia? Itu bukan kebetulan belaka. Paulo Antonio de Souza Mourao dari Fakultas Biomedika, Universidade Federal Rio de Janeiro, Brazil, membuktikannya. Menurut Paulo, glukosaminoglikan dalam teripang mampu mengatasi tulang rapuh pada penderita talasemia mayor. Senyawa itu berefek memperbaiki aliran darah dan melancarkan cairan yang tersumbat.Penggunaan teripang untuk penyakit talasemia dipatenkan oleh Yash Sharma P dari Houston, Amerika Serikat. Menurut Yash, yang paling berpengaruh adalah kandungan N-asam glikolineuraminat, merupakan permukaan sel asam sialat. Sialat terbentuk dari polisakarida, glikoprotein, dan glikolipida. Saat terjadi mutasi gen, asam glikolineuraminat hilang dari sel. Makanya, limpa yang membersihkan darah tak bekerja semestinya. Akibatnya, limpa membengkak seperti yang dialami Salwa di pinggang kiri. dan Penambahan spirulina berfungsi untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah. untuk informasi pemesanan dan cara konsumsi  klik cara pemesanan jelly gamat dan spirulina

Ketika Salwa Tak Cuci Darah : Sumber trubus online: Kamis, Nopember 01, 2007 20:49:39

Ini hasil riset yang mencengangkan: 20-juta penduduk Indonesia membawa gen penyakit talasemia. Mereka berpeluang mewariskan penyakit kelainan darah itu kepada keturunannya. Pasangan Tarkiman dan Siti Maryati di Cianjur, Jawa Barat, misalnya menurunkan penyakit itu kepada buah hati mereka, Salwa Wijaya.

Salwa Wijaya (3 tahun) tak seperti bocah seusianya yang tengah lucu-lucunya. Tubuh sulung 2 bersaudara itu kurus kering. Suhu tinggi kerap menghampirinya. Pertumbuhannya juga lambat. Ia baru dapat berjalan ketika usianya 2,5 tahun. Pada tahap itu Siti Maryati tak curiga bahwa anaknya mengidap talasemia. Ia hanya menduga, anaknya kurus kering lantaran enggan makan.

Ketika benjolan seukuran buah kedondong muncul di pinggang kiri perempuan itu, Siti bergegas ke dokter. Hasil diagnosis dokter, Salwa kelelahan. Siti tak puas hati atas diagnosis itu sehingga mendatangi dokter kedua. Ahli medis itu menyarankan agar Salwa menjalani tes darah. Ketika itu kulit Salwa pucat, perut membuncit, dan urine lebih gelap. Misteri itu terpecahkan di Rumahsakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Bocah kelahiran 5 Februari 1997 itu positif talasemia.

Benjolan di pinggang itu ternyata limpa yang membengkak. Organ itu membesar lantaran tak dapat menjalankan fungsinya membersihkan darah. Dokter mengatakan belum ada penawar alias obat talasemia. ‘Hanya transfusi darah penyambung hidupnya,’ kata Tarkiman mengulangi pernyataan dokter. Dua minggu sekali, Salwa harus menjalani transfusi sebanyak 2-3 kantong darah.

Transfusi

Di dalam tubuh pasien talasemia terjadi perubahan atau mutasi gen pembawa kode genetik untuk pembuatan hemoglobin. Akibatnya, kualitas sel darah merah tidak baik dan gagal bertahan hidup lama. Pasien talasemia mesti menjalani transfusi untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam tubuh. Tugas hemoglobin berfungsi mengikat dan membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Kadar hemoglobin dalam tubuh rendah menyebabkan kelelahan, bahkan pingsan. Karena lama merawat Salwa, Siti akhirnya mengetahui kapan Salwa mesti menjalani transfusi darah. ‘Tanda-tanda Salwa harus ditransfusi darah, bibirnya putih pucat, mimisan, lemas lunglai, dan tonjolan membengkak di pinggangnya,’ kata Siti. Saat itu, kadar hemoglobin dalam darah Salwa hanya 6; kadar normal 12-16.

Setelah transfusi, hemoglobin hanya meningkat 1 angka, menjadi 7. Itu sebabnya tubuh Salwa masih tetap lemah. ‘Saya hampir tak pernah mengikuti pelajaran olahraga,’ kata Salwa yang kini berusia 10 tahun.

Titik terang kesembuhan datang pada Mei 2007. Saat itu seorang perawat di RSU Cianjur menceritakan ekstrak teripang untuk membantu mengatasi penderitaan anaknya.

Semula Tarkiman enggan memberikan ekstrak itu karena tidak yakin bisa menyembuhkan penyakit Salwa. Maklum, sebelumnya ia mencoba berbagai suplemen kesehatan anjuran rekan-rekannya, tetapi tetap gagal. ‘Semuanya sudah dicoba, mulai dari jamu-jamuan sampai dengan pengobatan alternatif dengan mediasi, semuanya gagal,’ kata Tarkiman.

Genetik

Suatu ketika pikiran Tarkiman berubah: tak ada salahnya untuk mencoba. Cairan kental itu dikonsumsi Salwa 2 kali satu sendok makan sehari. Dosis itu ditambah dengan 5 butir spirulina 2 kali sehari. Pekan pertama, Salwa tak lagi demam. Tiga pekan kemudian, hasil laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin Salwa melonjak ke angka 10. Artinya, kesehatan Salwa berangsur normal.

Setelah 3 bulan mengkonsumsi, frekuensi transfusi darah berkurang dari 2 kali per bulan masing-masing 2-3 kantong menjadi 1 kali sebulan hanya 1 kantong. Walau begitu, kadar hemoglobin tetap ajek di atas angka 10. Bobot tubuh meningkat menjadi 28 kg, sebelumnya 20 kg. Pun, limpa Salwa, kini tak pernah membengkak. Perubahan itu menggembirakan keluarga Tarkiman.

Menurut Ketua Pusat Talasemia Indonesia, Prof Dr Iskandar Wahidijat SpA(K), talasemia adalah suatu penyakit genetik yang diturunkan dari kedua orangtua. Kedua orangtua secara klinis boleh saja terlihat sehat, walau sebetulnya salah satu gennya pembawa sifat penyakit itu. Nah, bila kedua gen itu bertemu, maka anak mereka akan mengidap talasemia. Hidup anak bergantung pada transfusi darah karena umur sel darah merahnya tidak panjang, hanya 1-2 bulan, normalnya 3-4 bulan.

Glukosaminoglikan

Lalu soal ekstrak teripang mengatasi talasemia? Itu bukan kebetulan belaka. Paulo Antonio de Souza Mourao dari Fakultas Biomedika, Universidade Federal Rio de Janeiro, Brazil, membuktikannya. Menurut Paulo, glukosaminoglikan dalam teripang mampu mengatasi tulang rapuh pada penderita talasemia mayor. Senyawa itu berefek memperbaiki aliran darah dan melancarkan cairan yang tersumbat.

Penggunaan teripang untuk penyakit talasemia dipatenkan oleh Yash Sharma P dari Houston, Amerika Serikat. Menurut Yash, yang paling berpengaruh adalah kandungan N-asam glikolineuraminat, merupakan permukaan sel asam sialat. Sialat terbentuk dari polisakarida, glikoprotein, dan glikolipida. Saat terjadi mutasi gen, asam glikolineuraminat hilang dari sel. Makanya, limpa yang membersihkan darah tak bekerja semestinya. Akibatnya, limpa membengkak seperti yang dialami Salwa di pinggang kiri. Penambahan spirulina berfungsi untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah.

Salwa Wijaya tak sendirian. Di Indonesia masih banyak pengidap talasemia lain seperti hasil riset Departemen Kesehatan: 6-10% dari penduduk Indonesia membawa gen penyakit talasemia. Mengkonsumsi ekstrak teripang salah satu cara mengatasi penyakit mematikan itu. (Vina Fitriani).

Salah satu kelainan darah yang banyak terjadi di negara kita tercinta ini, adalah thalassemia. Thalassemia merupakan penyakit keturunan yang menyebabkan terjadinya kerusakan sel darah merah sehingga sel menjadi rusak (lisis) dan kehilangan fungsinya sebagai transpoter. Keturunan?! ya, ini penyakit keturunan. diturunkan secara medelian. Jadi maksudnya kalau sesama carier menikah maka kemungkinan mempunyai anak thalassemia berat adalah 25%, 50% anak sebagai carier dan 25% anak normal. Masih ingat pejaran biologi SMA tentang mendelian ini?! jika Tt (carier) menikah dengan Tt maka anaknya adalah 1TT:2Tt:1tt inilah kira-kira genotifnya.

Darah kita mempunyai waktu  hidup 120 hari. Setelah lama beredar dan menjalankan fungsinya dia akan rusak, mati dan dihancurkan di organ limpa. Namun, mati satu tumbuh seribu. Darah yang mati ini akan diganti oleh sel-sel darah baru yang diproduksi oleh sumsum tulang belakang, darah baru ini masih segar dan fit untuk menjalankan fungsinya ke depan selama 120 hari. Begitulah seterusnya siklus darah manusia. Namun, pada thalassemia bukan itu yang terjadi. sel darah merah tidak dapat bertahan sampai 120 hari, sel-sel akan mudah lisis dan dihancurkan oleh limpa, sehingga penderita akan menjadi kekurangan sel darah merah yang kita kenal dengan anemia. Anemia kronik, yaitu kekurangan darah yang terjadi dalam waktu lama sehingga tubuh kita mengkompensasi -beradaptasi- dengan kekurangan tersebut.

Organ yang paling mempunyai tugas berat dalam hal ini adalah jantung, jantung mempunyai tugas memastikan setiap organ mendapatkan pasokan darah yang cukup, sehingga pada anemia bagaimanapun kerja keras jantung tidak akan pernah mencukupi kebutuhan setiap organ. Karena terlalu bekerja keras maka jantung akan mengalami kelelahan, otot-otot jantung menjadi besar -sebagaimana otot di lengan kita yang apabila kita latih terus menerus akan membesar- dan dikenal dengan hipertrofi. Pada akhirnya jantung akan jatuh dalam fase gagal jantung. Limpa juga bekerja keras dalam menghancurkan sel darah merah yang lisis sehingga limpa pun bernasib sama seperti jantung, hipertrofi, yang lebih dikenal sebagai splenomegali.

Penderita thalassemi harus mendapat transfusi darah secara periodik untuk menjamin kebutuhan setiap organ dalam tubuh akan darah yang segar. Ya udah selesai lah masalah thalassemi.. Ups! Jangan salah.. Masalah tidak hanya sampai di situ. Pada saat transfusi darah, tidak hanya sel darah merah yang didapat tubuh namun juga zat besi. Tubuh tetap menghasilkan zat besi sehingga terdapat kelebihan zat besi dalam tubuh penderita. Zat besi tersebut akan menumpuk pada organ-organ tubuh dan lagi-lagi dapat menyebabkan kegagalan organ. Selain itu terdapat juga perubahan warna kulit menjadi hitam legam akibat penumpukan besi, perubahan wajah akibat destruksi tulang hidung yang lebih dikenal sebagai facies cooley wajah ini sangat khas pada thalassemia.

Penumpukan besi akhirnya mendapat juga jalan keluar. pemanfaatan Chelating agent dalam “mencuci” darah yang kelebihan zat besi. namun chelating agent ini juga bukan jalan keluar yang menyenangkan, sebab proses ini harus dijalankan dengan durasi 8-12 jam dengan frekuensi 5x/minggu. Bayangkan berapa banyak waktu yang seharusnya dipakai oleh seorang anak untuk bermain bersama teman-teman dan belajar di sekolah.

Rumit memang… Seorang anak akan kehilangan fase bermain yang sangat berharga. Fase mengenal kehidupan baru, fase kehidupan sosial. Yang bisa kita lakukan mencegah terjadinya kasus baru thalassemia. Skrining thalassemia salah satu caranya, setiap orang akan dicari tahu apakah dia carier atau kah normal. Sebab seperti dipaparkan di atas, bila seorang carier menikah dengan carier makanya kemungkinannya 25% anak akan menderita thalassemia dan kemungkinan ini akan tetap sama pada setiap kelahiran.

Siapa yang seharusnya melakukan skrining thalassemia?! Menurut saya, lakukan sedini mungkin sebelum pernikahan atau kehamilan. Timbul pertanyaan. Apakah bila saya dan pasangan saya melakukan skrining thalassemia dan ternyata kami berdua carier.. Haruskah kami memutuskan hubungan kami?! Naaaahhh… itu balik lagi ke indvidu masing-masing karena dalam hal ini masalah emosi sudah bermain. Setidaknya kalaupun pasangan ini memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka, mereka tau hal apa yang akan mereka hadapi dalam kehidupan rumah tangga dan anak mereka sehingga hal-hal penting seperti masa depan anak dan tentunya biaya pengobatan sudah menjadi bahan pertimbangan yang dibicarakan secara matang.

Di Indonesia. 10 dari 100 orang adalah carier thalassemia. Mungkin saja saya
atau anda carier! Siapa yang tau. Nah segera proteksi keluarga anda dengan mengkonsumsi Jelly gamat dan spirullina,pesan klik disini