Frambusia atau patekan sempat menjadi penyakit yang di anggap punah atau telah hilang dari bumi ini. Namun,faktanya penyakit ini masih ada di daerah tertentu di Indonesia. Seperti di wilayah Kabupaten Halmahera selatan,Maluku utara yang memiliki jumlah penderita frambusia yang cukup tinggi.

Menurut Dr.Dian Pratiwi SpKK,frambusia dalam bahasa Inggrisnya disebut yaws,ada juga yang menyebut frambusia tropica,sementara dalam bahasa jawa disebut degan nama pathekan.

Gejala bervariasi

Frambusia adalah suatu penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri nonvenereal treponematosis. Lebih lanjut lagi dr.Dian menambahkan,geala dari penyakit frambusia tergantung dari stadiumnya. Tanda dan gejala frambusia antara lain :

  • Stadium Primer. Umumnya terjadi di daerah lengan dan kaki. Lesi berwarna kemerahan,tidak nyeri namun terkadang gatal-gatal berbenjol atau kutil(papul). papul-papul tersebut akan meluas dengan diameter 1-5 cm untuk kemudian menjadi luka terbuka dengan dasar berwarna kemerahan seperti buah frambus (raspberry). Karena jumlah bakteri treponema yang banyak,maka lesi primer tersebut sangat menular. Pembesaran kelenjar getah bening,demam serta rasa nyeri merupakan tanda dari stadium ini. Induk frambusia akan pecah dalam 2-9 bulan yang meninggalkan bekas dengan bagian tengah yang bersifat hipopigmentasi.
  • Stadium sekunder.Sekitar 1-4 bulan setelah stadium primer. Lesi kulit atau lesi anakan yang menyerupai lesi induk tapi berukuran lebih kecil yang biasanya ditemukan di permukaan tubuh dan sebagian rongga mulut atau hidung. Lesi anakan ini akan meluas,membentuk luka terbuka yang nyeri dengan cairan-cairan yang berisi bakteri treponema. Cairan tersebut menarik lalat-lalat untuk hinggap dan kemudian menyebarkannya kepada orang lain.
  • Stadium tersier.Pada stadium ini,10-20 persennya setelah 5-15 tahun akan kembali kambuh,yang ditandai dengan lesi kulit yang destruktif.Stadium ini dapat menyerang tulang dan persendian. Infeksi tulang terutama menyerang tulang kaki dan tangan. Infeksi ini apabila tidak terkendali akan menyebabkan hancurnya struktur tulang,dan berakhir dengan kecacatan dan kelumpuhan.

Dapat menyebabkan cacat

Frambusia bukan penyakit yang mematikan,”kata Dr.Dian. Tapi bukannya tidakĀ  berbahaya.Frambusia bersifat kronik apabila tida diobati,dan akan menyerang dan merusak kulit,otot serta persendian sehingga menjadi cacat seumur hidup. Pada 10-20 % kasus frambusia akan berlanjut ke stadium lanjut ditandai dengan lesi yang merusak susunan kulit yang juga mengenai tulang dan persendian.

Umumnya penyakit frambusia menyerang anak-anak dibawah usia 15 tahun.Rata-rata terjadi antara usia 6-10 tahun. Penyakit ini tumbuh subur terutama di daerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas,banyak hujan,yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin,sanitasi lingkungan yang buruk,kurangnya fasilitas air bersih,lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.