Hepatitis b pada bayi

Penyakit hepatitis B bisa kita jumpai pada saat bayi baru  lahir,tanda dan gejala penyakit ini juga sangat mudah di kenali,untuk terhindar dari penyakit ini,ibu hamil sangat di anjuran untuk memeriksakan kandungannya secara rutin minimal setiap bulannya.

Penyakit ini merupakan penyakit yang rentan dan perlu pengawasan yang serius dari dokter atau tim medis lainnya,apa lagi pada saat penyakit ini menyerang pada bayi harus segera di tindak lanjuti secara cepat untuk bisa melakukan pengobatan yang aman pada bayinya

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang menginfeksi hati hominoidae, termasuk manusia, dan menyebabkan peradangan yang disebut hepatitis.

Virus Hepatitis B merupakan virus DNA yang termasuk golongan Hepadnaviridae. Genome virus ini mempunyai empat buah open reading frame: inti, kapsul, polimerase, dan X. Gen inti mengkode protein nukleokapsid yang penting dalam membungkus virus dan HBeAg. Gen permukaan mengkode protein pre-S1, pre-S2, dan protein S. Gen X mengkode protein X yang berperan penting dalam proses karsinogenesis.

Bayi dengan daya tahan tubuh lemah akan mudah tertular penyakit ini, dan jika bayi telah terinfeksi virus ini maka resiko menderita kanker hati ketika dewasa nanti menjadi lebih besar. Imunisasi bayi adalah memasukkan bibit penyakit tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh bayi dengan tujuan supaya tubuh bayi tersebut membentuk antibodi yang dapat melawan penyakit tersebut jika kelak menginfeksinya. Imunisasi bayi ada yang dilakukan melalui suntikan ada pula yang melalui oral atau diteteskan ke dalam mulut. Imunisasi hepatitis b selain untuk memberi kekebalan pada bayi terhadap penyakit ini, juga berguna untuk mengurangi penyebaran penyakit hepatitis b.

Selain melalui jalur ibu ke anak, penularan hepatitis b juga bisa melalui jarum suntuk, tindik, transfusi darah, dan luka. Jika virus telah menyebar ke dalam darah anak dan bahkan menetap di dalam hatinya maka akan lebih sulit mengobatinya oleh karena itu pemerintah menjadikan imunisasi hepatitis b merupakan imunisasi wajib bagi bayi. Banyak ibu muda yang menunda pemberian imunisasi bayinya karena khawatir akan reaksi dan efek samping dari imunisasi bayi seperti demam, kejang, bengkak pada bekas suntikan sehingga bayi rewel, autis, bahkan cacat. Gejala dari penyakit hepatitis b antara lain kulit dan mata berwarna kuning, badan lemas, mual, muntah, hati membesar dan nyeri jika ditekan, kesadaran menurun. Jika daya tahan bayi lemah dan diperparah dengan malnutrisi maka akan beresiko terjadi komplikasi seperti sirosis hati, varises esofagus, kekurangan produksi protein, kekurangan zat pembeku darah, dan lain-lain.

Imunisasi hepatitis b tidak boleh diberikan saat daya tahan bayi sedang menurun atau bayi telah terinfeksi penyakit ini. Menurut jadwal yang telah dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, pemberian vaksin hepatitis b dilakukan 3 kali. Imunisasi bayi HB-1 dilakukan 12 jam setelah lahir atau paling lambat 7 hari setelah lahir. Vaksin HB-2 diberikan saat bayi berusia 1 bulan (berselang 1 bulan dari imunisasi pertama). Dan vaksin HB-3 diberikan saat bayi berusia 6 bulan (berselang 5 bulan dari HB-2). Pemberian imunisasi bayi bisa dilakukan di rumah sakit, puskesmas, posyandu, dokter anak, atau bidan.

Bayi dengan daya tahan tubuh lemah akan mudah tertular penyakit ini, dan jika bayi telah terinfeksi virus ini maka resiko menderita kanker hati ketika dewasa nanti menjadi lebih besar. Imunisasi bayi adalah memasukkan bibit penyakit tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh bayi dengan tujuan supaya tubuh bayi tersebut membentuk antibodi yang dapat melawan penyakit tersebut jika kelak menginfeksinya. Imunisasi bayi ada yang dilakukan melalui suntikan ada pula yang melalui oral atau diteteskan ke dalam mulut. Imunisasi hepatitis b selain untuk memberi kekebalan pada bayi terhadap penyakit ini, juga berguna untuk mengurangi penyebaran penyakit hepatitis b.

Selain melalui jalur ibu ke anak, penularan hepatitis b juga bisa melalui jarum suntuk, tindik, transfusi darah, dan luka. Jika virus telah menyebar ke dalam darah anak dan bahkan menetap di dalam hatinya maka akan lebih sulit mengobatinya oleh karena itu pemerintah menjadikan imunisasi hepatitis b merupakan imunisasi wajib bagi bayi. Banyak ibu muda yang menunda pemberian imunisasi bayinya karena khawatir akan reaksi dan efek samping dari imunisasi bayi seperti demam, kejang, bengkak pada bekas suntikan sehingga bayi rewel, autis, bahkan cacat. Gejala dari penyakit hepatitis b antara lain kulit dan mata berwarna kuning, badan lemas, mual, muntah, hati membesar dan nyeri jika ditekan, kesadaran menurun. Jika daya tahan bayi lemah dan diperparah dengan malnutrisi maka akan beresiko terjadi komplikasi seperti sirosis hati, varises esofagus, kekurangan produksi protein, kekurangan zat pembeku darah, dan lain-lain.

Imunisasi hepatitis b tidak boleh diberikan saat daya tahan bayi sedang menurun atau bayi telah terinfeksi penyakit ini. Menurut jadwal yang telah dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, pemberian vaksin hepatitis b dilakukan 3 kali. Imunisasi bayi HB-1 dilakukan 12 jam setelah lahir atau paling lambat 7 hari setelah lahir. Vaksin HB-2 diberikan saat bayi berusia 1 bulan (berselang 1 bulan dari imunisasi pertama). Dan vaksin HB-3 diberikan saat bayi berusia 6 bulan (berselang 5 bulan dari HB-2). Pemberian imunisasi bayi bisa dilakukan di rumah sakit, puskesmas, posyandu, dokter anak, atau bidan.

Sebagian besar bayi yang terinfeksi akan mengalami hepatitis kronis (hepatitis menahun) yang biasanya baru menimbulkan gejala pada masa kanak-kanak.Hepatitis pada bayi baru lahir merupakan suatu penyakit yang serius,25% dari penderita biasanya meninggal
Pada bayi yang terinfeksi kadang di temukan gejala sebagai berikut;
-Pembesaran hati (hepatomegal)
-ascites(penimbunan cairan di dalam perut)
-sakit kuning (jaundice)akibat peningkatan kadar bilirubin

Berdasarkan informasi di atas sebaiknya kita lebih aktif lagi untuk bisa hidup sehat.Salahsatu obat alami hepatitis b yang aman untuk bayi adalah jelly gamat.